September 30, 2007 oleh hpurwantoro

Bagaimanapun kesan pertama yang paling sederhana yang tertangkap dari arti puasa adalah lapar dan dahaga, tapi benarkah hanya segitu saja arti dari puasa?. Saya mencoba untuk ikut memberi arti dari puasa dengan gaya dan pemahaman saya. Apa yang diungkapkan Rasulullah SAW dulu tentang “sungguh rugilah orang yang berpuasa yang hanya sekedar mendapatkan rasa lapar dan dahaga” patut kita renungkan dalam-dalam. Juga yang tak kalah pentingnya adalah firman Allah SWT yang terdapat dalam salah satu ayat surat Al-baqarah yang artinya “……sesungguhnya berpuasa itu lebih baik bagimu bila engkau mengetahui”. Mencermati kedua hal tersebut diatas, puasa bagi saya bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga tapi mempunyai kandungan arti yang sungguh amat dalam. Tersadari atau tidak, kadang kala kita terjebak dalam pemahaman tentang tata cara yang kita jadikan tujuan , sehingga mengabaikan apa tujuan berpuasa sesungguhnya. Berpuasa yang hanya terdapat dalam bulan ramadhan ini hakekatnya adalah ditujukan kepada Allah SWT, lain tidak (bagi saya apapun bentuk ibadah lainnya dalam islam juga ditujukan kepada Allah SWT tanpa terkecuali, bagaimana dengan anda?!). Ketika kita menyadari dan memahami dengan keyakinan mutlak akan arti puasa, maka sesungguhnya disitulah ada Kemahasayangan dan Kemahapedulian dari Sang Penguasa Alam Semesta terhadap kita . Kenapa bisa begitu, karena dengan pemahaman seperti itu maka akan timbul efek-efek positif dan energi-energi yang membangun yang sangat mempengaruhi segala dimensi kehidupan kita. Disini kita ditantang untuk mendayagunakan setiap potensi hati dan pikir, serta bagaimana kita menyikapi secara lahir batin terhadap puasa. Jadi tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, menghindari makan dan minum. Seringkali dibulan ramadhan ini orang-orang begitu menikmati rutinitas “tidur” hanya karena ada ungkapan dari Rasulullah SAW bahwa tidurnya orang puasa adalah mendapatkan pahala. Kalo hal seperti ini kita telan mentah-mentah maka dapat dipastikan bisa jadi bulan ramadhan akan berubah “bulan malas massal” karena dimana-mana banyak orang tidur dan beranggapan mendapatkan pahala. Padahal bagi saya (sekali lagi bagi saya, anda terserah mempunyai pemahaman lain sesuai persepsi anda sendiri), ini merupakan ungkapan sindiran halus bahkan teramat sopan dari seorang Rasul terhadap kaumnya bahwa kalau kita sedang berpuasa tidak harus mengendorkan semangat beraktifitas yang tiap hari kita lakukan baik aktifitas lahir maupun batin. Mungkin inilah yang diharapkan oleh Rasullullah SAW agar kita lebih bisa berpacu dalam semangat positif, tidak hanya sekedar tidur. Tidur aja dapat pahala bagaimana jika kita tidak tidur bahkan terus berkarya, pasti lebih gede dong pahalanya dan tentu aja punya makna yang lebih. Tapi harus tetap kita ingat bahwa berpuasa hanyalah ditujukan kapada ALLAH SWT, adapun nantinya ada hal-hal yang berefek kepada kita, serahkan semuanya pada kehendakNya. Sekedar tambahan, Allah pun tak akan tinggal diam terhadap orang yang berpuasa dengan sungguh-sungguh dan benar, akan ada perubahan positif yang dikaruniakan Allah kepadanya yang meliputi seluruh sendi kehidupannya. Secara fisik orang tersebut akan semakin sehat dan kuat, lebih peka terhadap lingkungan sosial sekitarnya dan punya kepedulian yang tinggi akan sesama, mempunyai self controlling yang sudah teruji ketika berpuasa, dan yang tak kalah pentingnya adalah semakin mantaplah iman dan taqwanya. Bila kita sedang atau sesudah menjalani puasa tidak mengarah ke hal-hal tersebut diatas, ada baiknya kita beristhigfar kepadaNYa dan segera mengoreksi prilaku kita. Sungguh kasih sayang Allah melebihi segalanya. Semoga tak sia-sialah puasa kita, amiin.